Kamis, 22 Agustus 2019

CIUM UNTUK KAKEK

Ini sedih sih.

**

Senin, Sebelas agustus dua ribu sembilan belas. Hari ini bisa dibilang hari gue beneran bersedih karena ditinggal seseorang. Gue pernah bersedih saat ditinggal nenek dari nyokap gue. Tapi waktu itu gue sedih lebih karena gue ngelihat kakek (suami almh nenek) cuma bisa ngelihat nenek yang sedang sakaratul maut sambil duduk diluar kamar. Kakek memang menderita stroke. Fungsi geraknya tidak maksimal, hanya bisa duduk dengan tangan dan kaki yang susah diluruskan, dalam hati pasti ingin mendampingi nenek disampingnya, namun apa daya hanya bisa melihat orang tersayangnya meninggalkannya dari pintu kamar yang terbuka. Mata kakek terlihat berkaca. Nenek mulai berhenti bernapas.

Holly shit gue mau nangis lagi nulis beginian.

Singkat cerita beberapa bulan kemudian kakek juga meninggal. Mbah dari nyokap gue keduanya udah ngga ada. Honestly kesedihan gue tidak terlalu dalam. Mungkin karena gue kurang dekat secara emosional dengan mereka. Gue juga ga sedih waktu ditinggal mantan-mantan gue. Mungkin karena gue yang punya utang ke mereka. huehuehue.

Lalu tibalah saat kemarin, Kakek dari bokap gue meninggal. Dan ini bikin gue sedih. Bener-bener sedih. Kakek gue yang ini bener-bener baik sama cucu nya tapi pilih kasih, tanpa perhitungan. Gue ngerasa deket banget sama kakek, mungkin karna sayangnya dia ke gue emang kerasa tulus banget. Pernah suatu ketika gue mau berangkat ke asrama, karna gue harus berangkat dari rumah habis subuh besoknya maka gue pamitan ke rumah kakek dan para om tante malam hari nya. Gue cium tangan kakek sambil pamit mau balik kampus, seperti biasa kakek berusaha mencari uangnya untuk dijadikan uang saku gue. Setelah mencari, dan sepertinya, tidak ketemu kakek bilang "tunggu sini dulu" tapi aku bilang "udah kek, gausah dikasih uang, cukup doanya, aku pamit ya". Dan gue pulang. Subuh sebelum gue berangkat ada orang ketok-ketok pintu rumah gue, And it was him, kakek datang sedini itu untuk memberiku uang saku senilai Rp. 20.000. DUA.PULUH.RIBU.RUPIAH. jumlah yang secara nominal ga ada apa-apanya buat gue tapi secara moral nabrak banget di hati gue. 20rebu ini mungkin adalah semua yang kakek punya, bahkan mungkin harus ngutang dulu biar punya 20rebu ini karena semalam kakek masih ga punya uang.

Kakek gue ini juga merupakan guru ngaji gue dari kecil. Gue mulai belajar ngaji sejak kelas 3 madrasah, waktu itu gue dianter nyokap melewati perkampungan yang masih gelap karna jarang listrik tahun 2002. Gue dateng dan kakek nyiapin satu sajadah dan satu tasbih buat gue, nyempil diantara sepupu gue yang lain yang udah duluan ngaji. Kakeklah yang pertama ngajarin gue baca quran. Mungkin hal ini yang menjadikan wajar, bagaimana gue ga nangis baca alquran di hari kematiannya, sedang dia yang ngajarin cara baca huruf alif pertama gue. Sholat gue buyar hari itu. Teringat saat kecil, tiap sholat magrib beliaulah yang menjadi imam sholat gue di musholla miliknya, bareng sama jamaah lain a.k.a sepupu gue semua.

Kebaikan kakek mewarnai hari-hari masa kecil gue pas masih sering nginep dirumah dia. Sifat-sifatnya sedikit banyak ngasih corak pembentukan watak dan karakter gue. Gue selalu disediain makan telur meski kakek cuma sanggup beli tahu dan garem. Gue dibeliin sarung bagus meski sarung kakek sendiri sudah kusam dan jelek. Kakek jual ayam peliharaan saat gue sakit dan butuh uang buat berobat. Lalu saat istri gue sakit beberapa bulan lalu kakek maksa ikut jenguk padahal jarak rumahnya ga deket. And countless more. Kebaikan kakek tetep berasa dari aku kecil sampe segede bagong gini.

Sampai akhirnya dari dua minggu kemarin kakek mulai sakit demam. BAB nya banyak dan warnanya beda. Kakek udah jalanin berobat di puskesmas, dan tiap hari bersikeras pulang padahal keluarga mau merujuk ke Rumah Sakit di Kota. Gamau merepotkan, seperti biasa.

Empat hari di puskesmas kakek akhirnya pulang, untuk dua hari, kemudian di bawa ke rumah sakit. Waktu kakek dirujuk ke Kota gue waktu itu lagi pulang ke Lumajang, sayangnya hari itu gue lagi acara ke Kota. Okelah gue langsung ke Rumah Sakit yang ngerawat Kakek, nemenin kakek sehari di Rumah Sakit dengan kepala berat dan mata ngantuk. Malamnya gue pulang sambil nganter keluarga yang lain, dan packing untuk persiapan balik Jakarta.

Minggunya jadwal gue balik ke Jakarta, Kabar kakek sampe minggu malam senin terdengar membaik. Hati gue mulai tenang, gue bisa tidur di pesawat menuju Jakarta. Tapi ternyata senin dini hari kakek mulai kritis dan keluarga memutuskan membawa kakek pulang agar berkumpul dengan keluarga. Malam itu belum ada yang kasih kabar-kabar ke gue. Sampe senin pagi, Seonggok WA yang diawali kata "Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun" bikin gue nyaris nangis di tengah ruang rapat.

Gue lemes, gue meratapi kenyataan bahwa gue ditinggal orang tua yang udah ngasuh, ngedoain, dan ngajarin gue sholat-ngaji. Dan yang paling bikin gue nyesek, kakek meninggal sehari setelah gue pulang ke rumah buat jenguk kakek. Gue melewatkan dia, momen terakhir harusnya gue bisa cium dan sholati kakek gue. Dengan ciuman terakhir yang lebih proper, dari sekedar cium di rumah sakit.

Selamat jalan, Kakek, semua ilmu dan kasih sayang yang engkau berikan aku akan tetap lestarikan. Semoga menjadi amal ibadah untukku, dan amal jariyah untukmu.

**

Nb : Siapapun kalian yang membaca cerita ini, terimakasih. Mohon keiklasan mendoakan Kakek gue Mbah Juwarto Husen agar tenang dan diterima di sisiNya.

Kamis, 27 Juni 2019

KETUPAT DAN CINTA

Lebaran tahun ini jackpot banget buat gue. Selain libur PNS nambah 3 hari (jadi sekitar 12 hari) THR tahun ini juga lumayan gede. Tapi ternyata ini juga ngebuka mata gue kepada kenyataan bahwa gede belum tentu tahan lama. Maksud gue, uang THR yang terasa harusnya cukup untuk selama lebaran dirumah ternyata tidak cukup. Rupanya memang terbukti kata orang-orang bahwa THR itu singkatan dari Tiba Tiba Hangus dan Raib. Sedih.

Cuti lebaran yang agak panjang membuat gue bisa liburan agak tenang. Beberapa agenda sudah tersusun dengan rapi dan menyenangkan. Dimulai dari kepulangan gue naik kereta tanggal sembilan juni dari Bandung menuju surabaya. Bukan jiwa petualang yang membuat gue naik kereta dari Bandung dan bukan dari Jakarta. Tapi kekalahan yang menyedihkan di Ticket-War 90 hari sebelum hari keberangkatan. Gue kehabisan tiket, hanya karena aplikasi kampret yang eror ketika tinggal tekan tombol bayar. Akhirnya restart 5menit dan tiket keretapun ludes. Fog you KAI Access. Mungkin harusnya aplikasi ini berubah nama dari KAI menjadi .... ubah sendiri salah satu hurufnya.

Enam jam Bus Pimajasa Jakarta - Bandung ditambah Tujuh belas jam KA.Pasundan berangkat pkl. 05.00 tiba pkl. 22.00 di Surabaya. Gue officially #pemudik2018. It feels amazing dengan pantat yang mati rasa.

Gue bermalam di Surabaya dan melanjutkan perjalanan pulang dengan bus setelah sholat subuh. Turun di Klakah, Kakak gue sudah menunggu dengan perut hamil 12 bulannya. Kakak gue Cowok btw.

Tanggal sepuluh juni 2018 buka puasa pertama gue di Lumajang tidak bersama nyokap dan personel keluarga yang lainnya di rumah. Sorenya gue tancap gas motor merah putih kebanggaan bangsa untuk buka puasa bareng Dewan Kerja se Lumajang di Sanggar Kwarcab. Ya, masih dengan Pramuka.

Buka bersama di lingkungan Pramuka terasa nyaman dan ramai, seperti biasa. Meski dikesempatan buka puasa pertama gue di Lumajang tidak gue lakukan dirumah. But i am fine, honestly. Mungkin karena hampir sebulan ini buka puasa gue juga gak dirumah. Jadi ga ngerasa sedih atau yang gimana. Tapi orang-orang seakan ngasih pandangan kok-ga-buka-bareng-keluarga-dulu ke gue sambil nanya pertanyaan2 senada dengan pandangan itu. Tanpa mereka tahu bahwa ada di tengah Pramuka sudah membuat gue ngerasa ada di tengah keluarga.

Jadi pada dasarnya kegiatan buka bersama ini sudah direncakan sejak minggu pertama bulan Ramadhan. Gue dibantu beberapa orang panitia yang gue sebut Panitia Sembilan. Kenapa namanya Panitia Sembilan? pertama karena jumlah personelnya sembilan. Kedua karena keren, seperti panitia yang ditugaskan mengurusi kemerdekaan bangsa Indonesia. Bedanya disini yang diurusi adalah perut-perut yang menuntut dimerdekakan.

Buka puasa kedua, tanggal sebelas, gue mengajak seisi rumah untuk buka di luar. Buka di luar bukan maksudnya gelar tikar depan rumah. Tapi keluar untuk hangout, hitung2 sambil nyari "baju raye". To jember we went.

Dikarenakan bokap ada di Malaysia gue ngerasa kayak jadi Bapak di keluarga ini, yang ngegandeng nyokap kemana-mana sambil ngurusi dua alien kecil yang mulai banyak tingkah polahnya. Sementara kakak gue belanja sama istrinya. 

Hari selasa adalah harinya event paporit tiap tahun. Buka Bersama ***cok. Always feel warm and comfy. Dan sekali lagi, berasa di keluarga. Gue dateng bareng Asti, teman seperjuangan di angkatan #26. Wakil Pradana di jamannya. Saat masih menjabat Dewan Ambalan Asti ini bener-bener kayak jadi ibuk-ibuknya anak-anak dan gue ayah tiri nya. Di lokasi ada mas Rega dengan istri, Pak Luluk yang masih pembina gudep, Mas Bayu yang sekarang jadi pembina satuan, dan adek-adek penerus yang unyu2. Mulai dari angkatan#27 sampe yang sekarang aktif angkatan#33. Dan yang pasti, the legend, om Prio. 

BTW biar ga salah paham, ini judulnya Buka Bersama Hoscok.

Tanggal tiga belas adalah tanggalnya gue merger dua keluarga. Yakni keluarga gue dan keluarga koala. Dalam sebuah buka bersama dan main bersama di BJBR. Semua berjalan menyenangkan sampai akhirnya di mobil gue ngecek kamera mirrorless dan menyadari bahwa foto keluarga lengkap, yang fotografernya minta tolong ke mas-mas yang lagi lewat ditempat, tidak ada. Masnya tidak motoin. Dia cuma mencet setengah (adjusting focus) dan bilang "sudah bagus". Dia kira bunyi "tit" dari "focus" adalah bunyi dari "shutter". Kami gondok sekeluarga.

Buka puasa terakhir akhirnya gue buka puasa di rumah. Tapi enggak sendiri. Gue ditemenin teman2 alumni SMPN 1 Randuagung. Ada sekitar sepuluh orang yang dateng. Disana kami rapat buat ngebahas persiapan reuni sepuluh tahun kelulusan angkatan kita dari SMP. Kerasa tua ya.

See, event demi event yang gue lewatin untuk buka puasa di Lumajang kebanyakan ga bareng keluarga atau sanak famili. Justru bareng teman-teman gue Pramuka dan teman SMP. Sekalipun dengan keluarga adalah keluarga inti dan bener2 acara di luar. Ga ada meja keluarga. Ga ada yang teriak "mak magrib mak". Ga ada. Buka puasa di Lumajang tahun ini beda.

Tapi meski kondisi dan situasinya beda buat gue tidak ada yang membuatnya terasa beda. Buka bersama mereka, para armada tunas kelapa dan teman nostalgia, sama nyamannya seperti bersama keluarga. Feeling warm and comfortable. Dimanapun terasa seperti dirumah. Siapapun terasa seperti keluarga. Mungkin karena mereka adalah juga yang gue rindukan selain nyokap dan keturunannya. Mereka adalah yang selama SMA nemenin gue selama gue gak dirumah. Jadi wajar kalau gue bilang bahwa nyokap adalah yang gue rindukan di rumah dan Pramuka adalah yang gue rindukan di luar rumah.

Akhir cerita ramadhan saatnya Lebaran, melanjutkan tradisi. Berkunjung ke sanak famili, terutama yang lebih "senior" di antara garis keluarga. 

Lebaran kali ini gue berkunjung ke lebih sedikit rumah sodara dari biasanya. Kalau dirasiokan, waktu lebaran gue habis sepertiga untuk kerumah sanak famili, sepertiga untuk teman-rasa-keluarga, sepertiga lagi tidak melakukan apa-apa dan hanya menikmati ketenangan yang tidak ada di ibukota.

Lebaran sebelumnya gue bisa sampai ke sodara-sodara yang agak jauh tempatnya dari rumah gue. Bisa dibilang butuh semangat lebih lah untuk berangkat ke sana. Lebaran kali ini berkurang hampir setengahnya. Justru ke rumah-rumah teman-teman inilah yang tidak berkurang. Entah kenapa pergi kerumah mereka justru lebih semangat dan menyenangkan daripada kerumah "keluarga" yang sebenarnya gue sendiri banyak ga tau garis keluarganya dari mana. Bukan gue apatis, gue udah tanya dan cari tahu tapi tetap tidak ada jawaban yang jelas dan konkrit bahkan jika itu jawaban dari nyokap gue sendiri.

Berkunjung dan menjaling silaturahmi dengan mereka terasa lebih emosional. 

Keluarga tidak terbatas pada kesamaan darah. Lebih dari itu keluarga itu berdasarkan kesamaan perasaan. Saling menyayangi, no matter what. Saling mencintai dalam kondisi apapun.

Menakar cinta, mungkin tidak dinilai dari sesederhana perlambangannya. Cinta tidak seharusnya mulus dan imut dengan bentuk cupid pink seperti itu. Tapi runyam di luar, indah di dalam. Seperti ketupat, Rumit dan jelek dari luar, tapi menyimpan makanan yang mulus dan putih di dalam.

(ini adalah artikel yang ditinggalkan sejak lebaran tahun 2018, baru tersentuh kembali. selamat menikmati, semoga tidak basi)






Kamis, 11 Januari 2018

KUDETA PERASAAN ALA ALIEN

Ada banyak hal yang gue kangenin dari rumah. Nyokap adalah nomer satu. masakan nyokap adalah nomer dua. Baru setelah itu Bokap, Kakak, Nayla, Tanaman-tanaman gue dan yang terakhir adalah makhluk mungil baru hasil pengembangan dan perbaikan dari produksi sebelumnya, Alien built 2.0 yang dinamai Nayaka. Diyakini popularitasnya akan merebut pasar Alien 1.0 alias Nayla.

All New Alien built 2.0

Selasa, 09 Januari 2018

VICTORY VAN IPDN XXIV


- Tribute to Septiya Wulandari, S.STP
- Congrats for IPDN XXIV
- Thanks for Watching
- Sorry for Latepost

Senin, 08 Januari 2018

VICTORY!!! IPDN XXIII

8 Agustus 2016

Derap langkah kaki nan seirama telah berhenti. Sembilan orang pasukan tanda kehormatan kini berada di posisi sikap sempurna di ujung kanan pasukan Calon Purna Praja angkatan XXIII, tanda siap memasuki lapangan upacara. Artinya upacara siap dimulai.


Kamis, 04 Januari 2018

WONG BALI RASA OPPA, DAN KEMENPANRB YANG RAMAH


Tinggal dan bekerja di Jakarta adalah gambaran yg meragukan. Antara kesan megah nan glamor dan kesan crowded dan kejam ada di kota Jakarta. Ini ibarat kue tart yg enak tapi bentuknya eek. Kita tahu kita pengen kue tart, tapi bentuknnya yg kayak eek sering bikin kita mikir dua kali

Dan kini tiba saatnya gue harus ke Jakarta.


Rabu, 03 Januari 2018

MY YEAR 2016

Menulis bisa jadi kebiasaan yang baik. Buat sebagian orang malah jadi penghidupan yang baik. Gue suka menulis bukan karena gue ngerasa hebat dalam menulis atau tulisan gue bagus tapi karena menurut gue menulis memberikan banyak makna untuk tidak melupakan rekaman kehidupan. Kita mungkin bisa mengingat jejak perjalanan dalam tempo yang cukup lama dan mungkin lebih lama lagi dengan mengunggahnya di laman facebook atau instagram. Tapi menulis status di FB dan IG gue rasakan tidak bisa memberi makna seperti yang muncul dari menulis di blog (or book, occasionally) ada hikmah yang dengan sendirinya tumbuh dan ada memori yang melekat lebih kuat saat proses kita memikirkan kata yang pas untuk menceritakkannya sehingga memori itu terputar-teputar terus dikepala dan akhirnya, ya, perasaan terhadapnya jadi lebih dalam. Seperti potongan cokelat yg terasa lebih pahit (ingat tulisan gue tentang potongan hati).


Kamis, 28 Desember 2017

2017 REWIND

Kalau dosa seorang penulis adalah ketika dia tidak menulis, maka gue rasa jahanam udah nyiapin lagu terbaiknya buat nyambut gue. Segitu lamanya gue gak nulis dan masih berani-berani nyebut diri gue penulis (menurut pengakuan diri sendiri. Belagu, emang). Gue sekarang juga ngerasa bersalah sama blog yang jarang gue isi. Andai blog ini seorang anak yang harusnya gue rawat mungkin gue yang udah dikutuk jadi batu di tepi pantai.

Oke, ayo kita perbaiki.


Senin, 25 Desember 2017

SAYA MUSLIM BODOH - MUSLIM PINTAR JANGAN BACA


Assalamualaikum Wr Wb

Selamat malam saudaraku semua. Apa kabar kalian? semoga tetap sehat dan menyehatkan. Kenapa saya bilang menyehatkan? karena saya rasa sekarang banyak orang sehat justru menyakitkan. Kesehatan mereka membuat mereka aktif menebar racun. Tangan dan kaki mereka aktif. Mulut mereka aktif. Bahkan di "zaman now" jari pun aktif. Menebar racun benci, hasut, fitnah, hoax, dst. Tanpa mereka sadari, selayaknya manufaktur penghasil racun lainnya, racun yang kita produksi pun menghasilkan residu. Bedanya manufaktur/tempat proses kita bukan di pabrik melainkan di otak dan hati. Dan kita tahu kemana residu itu dilarikan : diri kita sendiri. Sakitlah yang membuat kegiatan "produksi racun" itu berhenti.


Kamis, 25 Februari 2016

Selasa, 16 Februari 2016

Way Back Home Part 2 : Teman Terbaik



Siang itu gue terbangun di keramaian terminal Kampung Rambutan. Sebagai salah satu terminal besar di ibukota, kehidupan di terminal Kampung Rambutan lebih keras dari terminal-terminal yang lain. Bencongnya aja sangar-sangar.


Minggu, 14 Februari 2016

Way Back Home Part 1 : See You Again Minangkabau


Pergi untuk pindah dari Kampus Sumbar, kembali mengharuskan gue meninggalkan sejumlah besar potongan hati gue disana. Bagaimanapun, Di Kampus ini gue pernah naruh hati pada banyak hal. Pada WWP, setwan, fkp, ecu, terompet gap, pada majalah bakaba, gunung, stroberi, pita, steling, pada hutang di pjp (sudah lunas. sumpah), pada jam setinggi  4 meter, hingga pada balkon yang biasa gue pake buat telfonan sambil berantem.


Rabu, 10 Februari 2016

Ga Jelas : Ketika Berjodoh



PERINGATAN!!!
Membaca tulisan ini dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, kuota habis, buang waktu, kepala pusing, dan gangguan kehamilan dan janin.

#

Sesosok Makhluk



6 Februari, 2016, Kampus ngasih kesempatan untuk melaksanakan IB satuan Praja sampai tanggal delapan. Ya, benar hadirin sekalian, setelah baru masuk dari dua bulan lamanya cuti sekarang ada lagi IB tiga hari. Set dahh, asik benerrrr.....


Jumat, 11 Desember 2015

Galau Terhebat

Di postingan tentang golongan darah sebelumnya gue cerita kalau golongan darah gue sempat berubah dan gue berpikir itu adalah hal keren. Sekarang gue ngerasa perubahan tersebut adalah hal yang mengkhawatirkan.


Rabu, 14 Oktober 2015

Gimme Dat Dream!!!

Gue kemaren posting tentang lucid dream.

Seperti yg gue ceritain lucid dream bisa bawa loe ke dunia mimpi yang loe impikan. Loe bisa karang, susun sampe rasain mimpi loe sendiri. Keren kan? Saking keren dan serunya gue eampe mikir, gimana kalo ada yang sampe kecanduan lucid dream?


Jumat, 07 Agustus 2015

Paralyze 'Tindihan' Sleep dan Lucid 'Ngeres' Dream

Ini postingan pertama gue pake gadget. Entah kenapa rasanya seperti kencan pertama. Ingin tetep berkesan, jantung berdebar, bibir bergetar, sambalasambaladoo....

Here we go


Minggu, 22 Februari 2015

Futsal Adalah Permainan Yang Berbahaya

Januari, 2015

Agar tidak terjadi kesalahpahaman, gue terangin dulu bahwa gue orangnya ga ngerti maen futsal.

Menurut gue, permainan futsal adalah permainan yang semua orang bisa, tapi ga semua orang jago. Gue tergolong orang yang tidak jago bermain futsal. Maka, ketika gue udah turun dan berlaga dalam sebuah pertandingan, sebuah lapangan futsal bisa seketika berubah menjadi arena gladiator yang mematikan. #Sangat berbahaya.


Rabu, 31 Desember 2014

The Chronicles of Malaysia : Prince Kesepian

25 Agustus gue masih di IIP, masih setia dengan Fairus. Hari itu gue berencana pergi ke terminal terdekat buat beli tiket Bus ke Bukittinggi. Dan setelah jatuh-bangun, naik-turun lengkap dengan mondar-mandir akhirnya gue mendapatkan tiket perjalanan ke Bukittinggi di agen bis Terminal Kampung Rambutan. Dan gue belajar satu hal bahwa ternyata, Kampung Rambutan ternyata berbeda dengan Desa Rambutan. Kernet kopaja yang gue permisiin "permisi pak, mau turun itu di Rambutan" pasti dalam hatinya ngebegoin gue abis-abisan. Khukhukhuu