Kamis, 25 Februari 2016

LGBT Untuk Indonesia Sejahtera



Assalamualaikum

Selamat pagi

Om swastiastu

Namo budoyo

Hemat pangkal kaya, eh..

Perkenalkan, nama saya Iborganteng. Anda pasti sudah kenal saya. Anda tidak kenal? Mungkin anda salah pergaulan. Saya sering muncul di televisi, tempat-tempat belanja, atau dari belakang lemari. Kalau sudah begitu biasanya pemilik rumah akan melempari saya dengan sandal.

Saya adalah pengusaha yang mendukung LGBT. Bahkan rencananya dalam waktu dekat saya akan mempromosikan LGBT agar semua orang tahu betapa hebatnya LGBT ini. Ya, anda penasaran bukan? Saya juga penasaran, ibu saya penasaran, keponakan saya penasaran. Tapi keponakan saya bukan penasaran karena LGBT, melainkan apakah boy akan menikahi Reva. Oh, anda juga penasaran? sayang sekali, padahal saya tahu kalau si boy tidak akan menikah karena mengalami kecelakaan sewaktu balapan motor. Dia mengalami pendarahan hebat di titit. Maaf, kalau ngomongin si boy saya jadi susah fokus.

LGBT adalah satu hal yang menarik.  Anda tidak tahu LGBT? Oh, saya tidak menyangka. Saya juga heran kenapa banyak orang tidak suka LGBT. Padahal LGBT ini adalah sesuatu yang tidak merusak. Bahkan, di beberapa negara LGBT diyakini mampu meningkatkan semangat dan rasa bahagia. Percayalah! LGBT akan datang menghampiri anda dengan tampilan yang menarik dan auranya yang panas. Percayalah! LGBT ini sangat pedaaaaas. Ya, LGBT! singkatan dari : Lado, Garam, Bawang dan Tomat alias…. SAMBALADO.

Bapak, ibu, dan semua jomblo di muka bumi, saya sangat yakin LGBT akan membawa kesejahteraan bagi Indonesia. Bagaimana caranya? Yakni dengan membujuk Obama agar mau makan nasi pake LGBT. Dengan begitu LGBT Indonesia akan dikenal dunia, permintaan barang pun akan naik, harga naik, tenaga kerja terserap, regional income akan naik, negara senang rakyat sejahtera. Sederhana bukan? Sayangnya, ajudan Obama yang menjadi taster LGBT telah ditemukan mati secara misterius dengan busa mojrot dari pantat.
Tapi saya tidak akan menyerah.

Untuk mensukseskan usaha saya ini saya membentuk perusahaan firma. Partner firma saya adalah AYU TINGTONG



Nama : Ayu Tingtong

Tempat tanggal lahir : Padang, 1 april 1900 sebelum masehi.

Jenis kelamin : perempuan

Cita cita : Menjadi pengulek sambalado nomer 1 di kompleks

Bersama Ayu, saya akan mendorong dan memasarkan LGBT agar diterima di masyarakat dunia. Dengan tag linenya “sambalado, pedasnya bikin bibir bergetar, lidah bergoyang, makan sepuluh bungkus, dijamin mencret sampe tua”.

LGBT akan kami jual dengan harga yang sangat terjangkau. Ya, untuk harga promosi, LGBT kami tawarkan dengan harga 5000 rupiah. Segera hubungi warung sambal terdekat dalam hitungan limaa..

Empaat..

Tiga..

Dua..

Satu..

WAKTU HABIS

Sekarang harganya tidak lagi 5000 rupiah
Tidak 50.000 rupiah
Tidak 500.000 rupiah
Tapi 5.000.000 poundsterling! Hidup pengusaha sambal!!!

Apa? Tidak, tentu saja saya tidak homo. Saya adalah penyuka lawan jenis, atau kawan jenis ya? Ah pokoknya gitu.

Sebagai penutup, saya akan memberitahu anda sebuah rahasia. Ini karena banyak orang yang gundah gulana bertanya-tanya tentang hal ini. bahwa saya sebenarnya adalah orang ganteng yang sedang menyamar sebagai orang tidak ganteng.

Sekian.

Terimakasih.

Salam samba, tambo ciyek!!!


Selasa, 16 Februari 2016

Way Back Home Part 2 : Teman Terbaik



Siang itu gue terbangun di keramaian terminal Kampung Rambutan. Sebagai salah satu terminal besar di ibukota, kehidupan di terminal Kampung Rambutan lebih keras dari terminal-terminal yang lain. Bencongnya aja sangar-sangar.

Gue duduk sendirian ketika bis berhenti di terminal. Pasukan asongan mulai naik satu persatu memenuhi bis. Mulai dari asongan gorengan, minuman, pacar, dan lain-lain. Yang datang ke gue adalah asongan powerbank, bapak-bapak usia 30an ini menyodorkan sebuah powerbank dengan harga 20rb. Gue mencoba menolak dengan halus tapi yang terjadi sepertinya bapak ini ngefans sama gue.

“Pegang dulu aja dek” katanya, menyodorkan powerbank, maksa
“Engga bang,  makasih”
“Ini powerbanknya murah lho dek, Cuma 20rb”
“Engga bang, saya ga punya android” gue menunjukkan hape Nokia gue
“Saya mah ga tanya duit dek. Ini powerbank murah lho”
“Android bang, saya ga punya android, jadi saya ga butuh power bank”
“Owh android, ngomong yang bener dong”

Ternyata bolot

“Ini pegang dulu deh, saya nawarin baik-baik” dia mulai desperate sama gue, terlihat dari caranya menaikkan suara

Merasa kasihan, gue pegang juga powerbank si bapak.
Dari sini si bapak mulai menunjukkan belangnya. Maksud gue bukan munculin belang terus jadi manusia harimau imbisil gitu, tapi niat jahatnya. Nada ngomongnya pun berubah mengintimidasi, mulai tanya-tanya tujuan dan adal daerah. Gue curiga, abis itu dia bakal tanya gue udah punya pacar apa belum.

“aduh adek ini orang jawa macem-macem lagi sama orang sini, udah ini ambil powerbanknya, maunya berapa emang? 18? 17?” katanya, maksa
“Engga bang, makasih” masih menolak dengan cantik
“Eh lu kok blagu sih, ini gue nawarin baik-baik ini powerbank, daripada kayak yang dibelakang ini dipaksa-paksa”

Sekilas gue perhatikan, ada bapak-bapak tua yang juga jadi target sasaran pedagang asongan ngeyel. Modusnya : jam tangan. Nadanya emang lebih mengancam. Si bapak yang ternyata orang luar jawa diem, dan dari wajahnya keliatan terancam.

“Berapa maunya bapak? Saya ga turun nih kalo ga jadi, bapak udah nawar-nawar tadi buang-buang waktu saya. Berapa kali masuk penjara?” kata tukang asongan kepada bapak di kursi belakang
Gue ga ngerti hubungannya beli jam sama masuk penjara. Yang jelas ini situasi yang tidak mengenakkan.

Gue, karna dongkol, jadi makin males

“Engga pak, makasih, saya ga punya android, saya ga butuh powerbank”
“Maunya berapa?”
“Engga pak, makasih” sampai sini gue berasumsi dia beneran budeg.

Dongkol,  dia mengumpat, dan mengambil powerbank di tangan gue sambil meremas. Gue dengan senang hati meremas balik tangan si bapak sambil ngelepasin powerbank sialan. Kami saling remas, Mata kami bertemu, Pandangan kami pun beradu, Bunga-bunga mekar di taman.

Si tukang asongan ngelonyor ke arah belakang bis. Gue tak acuh, gue terus main snake xenzia yang ada di hape nokia gue. Ga lama gue dikagetin sama asongan kedua, kali ini adalah asongan jam tangan.

“Dek, silakan jam tangannya, ini ada penunjuk jam dan kalendernya” katanya sambil megang satu jam. Dari arah datang dan pergerakannya gue berasumsi dia temen dari asongan powerbank sebelumnya.
“Engga bang, makasih, ini saya sudah ada jam tangan” kata gue sedikit mengangkat lengan kiri
“Ini dek, bagus jam tangannya, ada tombol light nya juga biar keliatan kalo malem?” dia terus maksa. Atau mungkin si abang juga gangguan pendengaran. Oalah asongan di kampung rambutan gitu semua kali ya?
“Engga bang, makasih”
“Elu blagu banget sih, lu mau gue tusuk lu? Kebal lu hah? Udah kebal?” katanya sambil menodongkan tang runcing yang memang ada di keranjang asongannya. Gue sempet kaget, gue diem, memikirkan bahwa gue sedang ditodong dengan sebuah tang menimbulkan dorongan kuat untuk tertawa.
“Engga bang, makasih” sambil gue dorong tangannya. Dan lagi, pandangan kami beradu, bunga-bunga mekar di taman.

Kadang, hal semacam itu terjadi dalam hidup. Gue bisa saja melawan atau berteriak dan sebagainya. Tapi yang gue lihat, orang-orang seperti ini lebih takut keluarganya engga makan daripada takut mati. Entah sudah berapa banyak orang yang telah menjadi korban, entah berapa yang berani melawan..

Oh, Terminal kampung rambutan, riwayatmu kini.

Bis gue mulai jalan. Belakangan gue perhatikan, orang-orang yang jadi sasaran pemaksaaan umumnya duduk sendirian, laki-laki, dan berpenampilan long distance traveler.

Disini gue sedikit berkesimpulan, kalau tukang asongan kampung rambutan adalah oorang-orang setengah desperate dengan biaya hidp di jakarta sehingga memutuskan berjualan dengan sedikit sedikit menakuti orang-orang luar kota, tapi juga ga gitu berani karna mereka memilih korban yang sendirian dan tidak memiliki kemungkinan berteriak/menangis. Jadi kalau anda penumpang luar kota dan akan tiba di kampung rambutan, pastikan anda tidak duduk sendirian. Kalau terpaksa duduk sendiri, pastikan anda bukan laki-laki. Saat itu juga gantilah kelamin anda. Ini demi keselamatan.

Route menuju Bekasi kira-kira seperti ini :

Lahat – Muara Enim – Oku – Oku Timur – Waykanan – Lampung Utara – Lampung Tengah – Pesawaran – Bandar Lampung – Lampung Selatan – Cilegon – Serang – Tangerang – Jakarta Barat – Jakarta Pusat – Jakarta Timur - Bekasi

Di bekasi gue dijemput sahabat gue selama tiga tahun ini, andrew si cakalang jenius.

Waktu gue nyebut sahabat itu karena kita udah barengan selama tiga tahun. Tahu satu sama lain sampai ke kebiasaan terburuk. Bagi kami berdua, ga ada namanya barang pribadi. Laptop, bantal, baju, celana dalem, Semuanya. Dan ketika gue nyebut cakalang jenius itu karna dia dari sulut, dan dia jenius. Satu hal yang berkesan bagi gue adalah kemampuan dia menguasai game dalam waktu singkat. Ya, hanya beberapa hari, tanpa tidur.

Singkatnya Kita udah temenan sejak muda praja dan sekarang Gue nginep dirumah sodaranya di bekasi timur, bersama mama dan saudari perempuannya. Kita putuskan malam itu kita jalan-jalan bertiga, gue, andrew, dan tante supit yang gaul. Malam itu, gue jadi anak gahol bekasi. yeay

Monas!! itu Monass!! Yaowoh gue di monass, emak anakmuuuu....!!
 
Hari berikutnya gue sampai di semarang. Di rumah kabag gue selama menjabat di wwp sumbar, fitri namanya, cantik orangnya, Oon kelakuannya.

OTW Semarang..

Bekasi – Karawang – Karawang – Subang – Indramayu – Cirebon – Brebes – Tegal – Pemalang – Pekalongan – Batang – Kendal – Semarang

Bagaimana gue menggambarkan Fitri? She is wonderwoman versi semarang yang multitalentpurpose. Dia bisa jadi kabag, yang berlagak atasan. Atau menjadi koordinator, yang bloonnya kayak kader. dia bisa menjadi notulen, mc, dan bahkan dirigen di saat bersamaan. Partner yang hebat, teman yang baik, mungkin sedikit oon tapi dia mau untuk terus tumbuh.

Gue dijemput Fitri dan adeknya, wira. Wira ini cowok dan beda 2 tahun dengan fitri. Tapi buat gue, mereka semacam anak kembar yang Cuma beda isi celana dalem. Mirip abis.

Waktu itu wira lagi galau klimaks karna hari itu adalah hari pengumuman kelulusan snmptn. Dan wira pengen banget masuk teknik sipil undip. Pilihan keduanya adalah ITB, kalau engga salah. Pokoknya teknik-teknik juga deh.

Siang gue sampe rumah Fitri dan langsung cabut buat nyari gadget android yang pingin gue beli. Namanya sebagai orang udim yg jadi korban iklan. Gue ga lupa mendemonstrasikan parade "ganteng dikit cekrek" berFoto-foto di gedung gubernuran, simpang lima dan lawang sewu.

At Gubernuran, abaikan wajah kulu-kulu

 Sorenya gue diajak keluarga Fitri buat buka bersama. Karna gue ga bisa nolak, jadilah kami bertiga semobil yang posisinya : bonyok fitri di depan, fitri di kanan, wira tengah dan gue di kiri. Sepanjang perjalanan kita ngobrol banyak dan santai. Cuma wira yang  diem. Sedikit berkeringat dingin. Jelas dia tampak gugup. dari siang nyoba buka portal pengumuman SNMPTN yang over bandwith. Sampai tiba-tiba..

Wira : “Alhamdulillahi robbil alamin, teknik sipil undip…”
Om : “ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR” sambil meletakkan kedua telapak tangan diwajah sambil berdoa, lupa kalo lagi nyetir
Tante : “Allahu akbar, Alhamdulillah nak, selamat ya le…” cium wajah anaknya
Fitri : “selamat ya dek, mbak tau kok kamu pasti bisa” meluk adeknya
Gue : "yeeee" Meluk ban mobil

Canggung dalam situasi seperti itu, gue akhirnya ikutan rangkul pundak wira dari belakang sambil ngucapin selamat. Sungguh, gue anak pungut.

Acara makan malam jadi lebih hangat. Kebahagiaan kita dilengkapi dengan berhasilnya wira diterima di teknik sipil Undip.

Malamnya gue diantar ke shelter bis. Disana gue udah ditungguin uci, Partner terhebat selama berbakti di gudep hoscokroaminoto. Menir berdarah dingin.

Kami berdua menuju malang. Di malang uc melanjutkan rencananya kumpul dengan teman-temannya. Dan gue melanjutkan hidup, silaturahmi ke rumah Alfredo (korkares malang) dan buka bersama kontingen jawa timur. Acara terakhir sebelum pulang ke rumah.

Perjalanan selanjutnya, adalah perjalanan menuju Rumah :

Semarang – Demak – Kudus – Pati – Rembang – Tuban – Lamongan – Gresik – Surabaya – Pasuruan – Malang – Probolinggo – Lumajang 

Alfredo Prime, Pemimpin para autobots
 
#

Kadang gue ngerasa kalau gue kurang bisa membaur dengan orang-orang di sekitar gue. Sering gue lakuin ; berkenalan, ngobrol sampe ketawa dengan orang-orang cuma agar bisa membuat ketidaksepian atau sekedar sebagai pemanis suatu acara. You know, itu ulah ibor.

I can to be silly, gue suka membuatnya meriah, Tapi jauh dalam diri gue kesepian.

Semua ketidakakuran dan ketidaknyamanan yang muncul membuat gue berpikir apakah gue ga cocok dengan mereka atau sebenarnya mereka yang ga cocok dengan gue?  semua perasaan ga penting itu pada akhirnya akan berujung gue jadi ngerasa beda. Dan menjadi beda punya bagian tersulit, apakah gue harus jadi diri sendiri atau harus berubah. Coz we don’t know wether our differ are unique or freaky, do we?

Pada faktanya, menjadi diri sendiri memang ga semudah yang diucapkan Julia Peres. Menjadi diri sendiri butuh keberanian. Berani untuk menjadi diri sendiri, by all mean, berani berjalan sendiri.
Orang-orang terdekat kita, mereka tetaplah bukan kita. Sedekat apapun orang itu dengan kita tetaplah orang yang berbeda. Semua yang pernah kita alami dan lingkungan tempat kita tumbuh menentukan setiap detail sifat yang kita miliki. Bagaimana kita memahami masalah dan menyelesaikannya,  

Bagaimana kita menerima luka dan tetap bertahan hidup, akan selalu berbeda dengan cara orang lain melakukannya. Mereka yang berkata “aku mengerti apa yang kau rasakan” tidak pernah benar-benar mengerti apa kita rasakan. Kalimat simpatik yang menyedihkan.

Perjalanan kali ini membawa banyak ketenangan. Seperti tidak pernah ada orang lain, seperti tidak pernah ada masalah. Kesendirian telah menjadi teman terbaik untuk dipeluk.

Juli, 2015


Minggu, 14 Februari 2016

Way Back Home Part 1 : See You Again Minangkabau



Pergi untuk pindah dari Kampus Sumbar, kembali mengharuskan gue meninggalkan sejumlah besar potongan hati gue disana. Bagaimanapun, Di Kampus ini gue pernah naruh hati pada banyak hal. Pada WWP, setwan, fkp, ecu, terompet gap, pada majalah bakaba, gunung, stroberi, pita, steling, pada hutang di pjp (sudah lunas. sumpah), pada jam setinggi  4 meter, hingga pada balkon yang biasa gue pake buat telfonan sambil berantem.

Dan memang ga semua cerita di Kampus ini manis buat gue. Beberapa justru rasanya seperti memukul gue sampe jatuh tersungkur. Tapi, bukankah pahit yang mebuat kopi terasa gurih?
Well, seperti netizen jawa bilang “urip iku gudu perkoro kowe diantem terus iso mbales, tapi perkoro kowe diantem tapi sik iso ngadek jejeg” (terjemahan : di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Sejatuh – jatuhnya gue ga ada alasan buat ga mencoba berdiri lagi. That is what strength worth on.

Keputusan gue untuk pulang naik bis salah satunya agar gue bisa sedikit lebih pelan-pelan ngelepas potongan-potongan hati itu. Biar tidak terlalu sakit, dan tidak terlalu tiba-tiba. Sekalian, gue berniat untuk ngerampok, maksud gue silaturahmi, di beberapa tempat nantinya.

#

First Moving : Induk Semang ; Pesisir Selatan - Solok

Route : Kampus –Bukittinggi – agam – tanah datar – padang Pariaman - padang – pesisir selatan – padang – solok

Pesisir selatan adalah tempat praktek lapangan 3 angkatan XXIII. Uda Mardoni namanya, pemilik rumah semang, adalah abang paling baik sedunia. Lajang, rajin ibadah dan ga kumisan. Cocok bagi yang mencari calon suami telat nikah. (sorry Uda, but you already on your age)

Jadi pada kunjungan gue kali ini gue sempatin nginep semalam di rumah uda dan ngajak uda buat main ke tempat-tempat nostalgia selama gue PL di sana. Pantai carocok, cilok di masjid, bukit langkisau, dan tentu saja kantin Uda Jon. Gue masih inget gimana hampir tiap hari kita ketawa bareng di kantin Uda Jon. Dari Ngobrol Batu sampe ngegosipin pegawai.

Gue sering godain Uda Jon. Juga Istrinya. Kita tos tiap hari, “oke fren” cletuk kami di setiap akhir sesi makan siang. Gue beneran berasa berteman banget sama Uda Jon. Tapi saat itu, melihat Uda jon Nangis waktu gue berpamitan, gue jadi berasa lain.

Besoknya gue sampe di solok. Di sana emang ga banyak main kemana-mana. Tapi gue ketemu teman lama, sekaligus guru dan pembimbing. Beliau adalah senior yang memperhatikan adik-adiknya, terutama kalau adik-adiknya lupa mandi pagi. Bang oktaviandi namanya.

Kebanyakan temen-temen bilang gue romantis udah ngebelain datang ke rumah induk semang. Kebanyakan dari mereka juga bilang ingin melakukan hal serupa tapi ga ada waktu. Masing-masing ingin cepet-cepet pulang.

Buat gue, sebenarnya ga ada yang namanya terlalu sibuk. Semua tergantung pada apa yang kita prirotaskan.

Buat gue, gue cuma ngerasa kalau kebaikan mereka udah sedikit banyak berpengaruh dalam hidup gue. Keramahan dan keceriaan di keluarga bapak firdaus, juga perhatiannya Uda Doni. Gue ngerasa terajarkan tentang kasih sayang sebuah keluarga, bahkan dari orang yang baru kita kenal.

Dan bertemu dengan orang-orang ini sekali lagi, waktu itu, gue harus sadar kalau gue mungkin ga akan ketemu mereka lagi dalam waktu yang amat sangat lama. Jadi, ini adalah momen melepas rindu untuk menciptakan kerinduan yang lain.

Moving : Fevtriansyah – Merangin, Jambi

Dari Solok Gue naik bis trans Sumatera yang bersahaja. Sepanjang jalan gue tidur dengan lagu-lagu sabrina mengalun di headset. Kebiasaan yang menyenangkan, untuk bisa tidur dimanapun tanpa merasa terganggu dengan kebisingan-kebisingan kecil. Mungkin ini kenapa gue betah naik bis kemana-mana.

Rute jalan yang gue lalui kira-kira begini :

Solok – Sawahlunto – Sijunjung – Dharmasraya – Bungo - Merangin

Kira-kira jam empat sore gue kebangun karena keringetan. Bis yang gue naikin mogok di negeri antah berantah yang panas, sepi dan tidak ada sinyal. Gue ga tau dimana tepatnya, yang jelas gue udah berada di provinsi Jambi.

Waktu itu gue berprasangka baik, kemungkinan mogoknya sebentar, karena penumpang ga ditransfer ke bis lain. Dari hasil menguping ternyata kipas mesinnya mogok. Sopir dan kondektur sempat kebingungan. Gue sebenarnya mau usul kalau kipasnya diganti kipas sate aja, tapi gue urungkan karena takut dikira ISIS (ga nyambung).

Sambil nunggu bis selesai diperbaiki gue kepikiran bang pep. Pep adalah Partner kerja di sekretariat wwp, juga majalah bakaba. Gue pernah cerita tentang pep di postingan sebelumnya. Lengkap dengan fotonya ngiler di buku tugas oranye. Tampan, mapan, Cuma agak tumpul kalo dihadapkan masalah kesabaran.saat itu dia pastinya udah nunggu lama kedatnagan gue yang tanpa kabar.

Gue mencoba menenangkan diri dengan ngipas-ngipasin sobekan kardus di pinggir jalan. Ga jelas mana penumpang mana kernek.

Jam delapan malem gue baru ketemu sama pep setelah turun di spbu bangko, merangin. Gue, pep, dan ilham oveje, bertiga kita menghabiskan malam di kota bangko yang bercahaya. One note that jambinese cullinary has a close taste to minangese. Elahdalah, Maksud hati mencicipi nasi goreng Jambi, apa daya mirip nasi goreng Padang.

Gue nginep di rumah bang pep. iya, kami tidur Sekamar, seranjang, dan kami curhat-curhatan satu sama lain. Tapi kami ga ngapa-ngapain. Sayang banget ya, padahal pep kan ganteng banget. #eh
There we were. Hacing A talk about everything. Tentang gadis-gadis, tentang masa depan. Dan semua yang untold tentang gue dan fevtriansyah. Sesuatu yang lucu dan tidak biasa bisa seterbuka ini dengan fevt. Kalau gue inget-inget pas waktu di Kampus kita jarang jalan bareng apalagi ngobrolin di kantin. Dan sekarang kita bisa terbuka satu sama lain jadi sesuatu yang manis.

Kadang, terbuka hanya masalah tempat dan waktu.

Gue merasa beruntung diterima di keluarga yang harmonis dan taat. Selepas sahur kita sholat berjamaah dan nonton tivi bareng di ruang keluarga. ayah pep sedikit banyak ngasih wejangan buat kita semua. Dari bahasan dan cara bicaranya, gue bisa tahu kalau ini rutin dilakukan. What a family, thanks a lot for accepting me.

Pep dan P*p


Hal lain yang menarik dari Kota Bangko adalah jalur tiganya yang cukup bikin nyinyir dan pemandangan kota bangko yang bisa dilihat dari area Tower Bangko.

Moving : Alan – Lahat, Sumsel

Besoknya gue melanjutkan perjalanan menuju liang Lahat, Sumsel. Pagi setelah berpamitan dengan keluarga bang pep, gue ditemenin Pep dan Ilham nunggu bis buat pergi ke lahat. Berhubung tidak ada bis yang ke lahat sepagi itu maka gue dengan terpaksa naik travel lepas. Ngengg..

Route mobil yang gue naikin kira-kira kayak gini :

Merangin – Sarolangun – Musirawas Utara – Musirawas – Lubuk Linggau – Empat Lawang - Lahat

Di Lubuk Linggau, Mobil berhenti di sebuah loket travel rekomendasi si bapak sopir. Gue harus turun karena mobil travel yang gue naikin ga bisa ngantar sampi Lahat dan saran terbaik adalah transfer mobil di Lubuk Linggau.

Gue turun di sebuah loket travel dan bicara dengan bapak-bapak penunggu loket yang bicaranya medok Sumsel. Setelah sepakat dengan harga gue membayar sejumlah uang diberi sebuah tiket travel yang menggambarkan denah sebuah mobil innova lengkap dengan nomor dimana gue harus duduk. Harga yang cukup pantas untuk sebuah travel mobil keluarga.

Hal aneh terjadi beberapa saat setelahnya, si bapak memberhentikan sebuah bis umum dan setengah terburu nyuruh gue naik bis itu. Gue agak curiga, gue bingung apa gue harus naik apa engga. Gue pun naik dengan agak terburu.

Ternyata bis berhenti di loket bis yang ga jauh dari tempat gue naik. Setelah pamit sama si kondektur, gue buru-buru balik ke loket travel buat ngambil barang yang ketinggalan karna terburu-buru. Sampe di loket, gue yang penasaran nanya ke bapak penunggu loket..

“pak, itu mobil yang saya naiki kok beda dengan yang saya pesan” tanya gue
“bedo aponyo? Kalau mau ke lahat ya naik itu jugo biso” Kata si Bapak, mendengus
“tapi ga sesuai dengan tiket yang saya terima, harganya juga harusnya kan ga segitu, ga sesuai lho pak”

Melihat gue ga terima si bapak mulai menaikkan suaranya dan bicara sambil berdiri

“ga sesuai ga sesuai cak mano? Kalo mau ke lahat ya naik itu, jam empat ini sekarang, kalau mau nunggu mobil ya nanti jam lima jam enam” Kata si bapak nyolot, kali ini dengusan si bapak mulai terdengar kayak banteng horny.

Gue melihat sekeliling, pemain catur, kartu remi, dan beberapa teman si bapak yang main. Mereka ngeliatin gue. Suasana hening mencekam.

Sadar dengan apa yang terjadi gue memilih untuk mengalah.

“oh iya lah pak” dan gue berlalu.

Gue udah ketipo bapak tuo. hohoho.

Sampai di Lahat gue di jemput alan. Dan setelah beberapa momen mandi dan naruh barang kita mulai sesi eksplore lahat. Its pempek time… ^^

Si Alan fuadi a.k.a. fuad pempek ini adalah orang nomer satu di Sekretariat. Dia pemimpin yang menjadi partner sekaligus rival yang paling layak untuk dipertimbangkan. Cerdas, taktis, dan tulus. Dengan sifat ketelatenan alan dan kebegundalan gue, bersama kami mengetikkan cerita-cerita indah untuk sekretariat 23, dan calon sekretariat 24. Huahahahaa.#evillaugh

Wong Kito bersama Wong Edan (Fokus pada jam gadang Lahatnya bro)

Ini namanya Bukit Jempol Srilo. Tuh gan, kasih jempol sama blog ini ya. (ayayay promosi)


Lahat adalah kota yang nyaman. By all mean, jalanannya yang mulus, pohonnya gede dan rindang. Juga makanannya enak-enak banget..

Besoknya gue berangkat dari lahat naik bis, Lewat Lampung, dan menyebrangi selat sunda, meninggalkan Sumatera yang kece.

#

Setiap tempat dalam setiap perjalanan mempunyai caranya sendiri untuk membekas di pikiran dan bahkan di hati. beberapa tempat memang dirancang untuk memberi kesan unik dan ingin didatangi lagi. Beberapa lainnya mampu memberikan ruang yang cukup untuk kita secara tidak sengaja menyandarkan hati disana.

Kampus Sumbar dengan segala cerita yang dibuatnya menyimpan memory bagaimana masa madya dan nindya berjalan bisa begitu manis. Sementara setiap perjalanan yang gue buat dan gue taburi potongan hati mengajarkan gue, bahwa alam juga bisa menjadi pendengar yang baik.

Kita semua pasti memiliki satu tempat, yang disana kita pernah ngalamin sesuatu atau mikirin satu hal yang memiliki rasa yang dalam. dan ketika tiba waktunya kita kembali kembali ke tempat itu, akan ada rasa yang muncul tanpa meminta ijin. It will hit us and recall a feel to appear. Ini seperti menabur potongan cokelat kesukaan kita di satu tempat. Ketika waktunya kita kembali ke tempat itu kita akan menemukan potongan coklat yang kita tinggalkan, potongan hati, yang masih terasa sama.

Negeri Minangkabau sekarang menjadi bagian dari perjalanan hidup gue. Kebaikan orang-orangnya, kehebatan tanah beradatnya, sejarahnya hingga kemilau alamnya seakan telah menjadi sebuah film pendek di kepala yang akan menjadi sangat menyenangkan untuk diputar lagi dan lagi. Gue bahkan udah ngerasa kangen sebelum benar-benar pergi dari ranah minang. I don’t know, mungkin gue emang harus punya waktu buat datang lagi ke Sumatera Barat.

#

Gue mengawali dan mengakhiri masa nindya praja menyebrangi selat Sunda. Ga tau kenapa lihat laut dari kapal yang goyang-goyang gitu bikin gue jadi lebih sentimentil dan memunculkan semua menjijikan. Seperti rindu, cinta, bahkan dendam. Semua muncul tanpa permisi. Dan apa yang bisa gue lakukan hanyalah duduk di tepian kapal sambil memandang laut yang tak berbatas. Diam. Menenggelamkan semuanya.


Rabu, 10 Februari 2016

Ga Jelas : Ketika Berjodoh



PERINGATAN!!!
Membaca tulisan ini dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, kuota habis, buang waktu, kepala pusing, dan gangguan kehamilan dan janin.

#

Gue masih terlentang dengan cantik, dengan tangan kiri di perut dan kaki bersilang. tangan kanan gue masih megang hape yang masih anget, Pandangan gue memaku di langit-langit kamar. Gue mikir.

Jodoh.

Banyak orang bilang akan menikah ketika sudah bertemu dengan jodoh mereka. Biasanya mereka akan bilang “kita ga akan pisah, dia adalah jodoh gue”  sambil sesenggukan nahan air mata dan ingus. Bagaimana orang-orang ini berbicara tentang jodoh buat gue adalah suatu hal yang absurd.

Gue termasuk orang yang ga percaya dengan konsep jodoh.

Menurut gue sangat tidak adil kalau kita harus terjebak dalam satu pilihan yang bahkan kita tidak dimana dan siapa pilihan itu sebenarnya. Kisah cinta orang saklek dengan konsep seperti ini kebanyakan alurnya kayak gini :

*lagi akur

"Akh, gue cocok banget sama dia. Ga salah gue pilih dia. Terimakasih Tuhan telah mempertemukan hamba kepada jodoh hamba" sambil berlinang air mata dan nulis di blog pribadi. Bukan, itu bukan gue.

*berantem dikit

"Ikh si dia nyebelin banget sich, selalu nyakitin perasaan aku, engga mau ngertiin aku. Ya Tuhan kenapa engkau pertemukan hamba dengan orang yang bukan jodoh hamba" sambil mabok

*jomblo

"Jalan-jalan pinggir kali ah, siapa tahu ketemu jodoh" ga jelas antara nyari jodoh apa nyari kodok.

Somehow, gue juga bertanya-tanya, siapa yang pendamping gue kelak? Seperti apa rupanya? Seperti apa sifatnya? Cewek apa cowok ya? Sophia latjuba jadi nikah sama ariel ga ya? (Ga nyambung)

Menurut gue Tuhan bukannya menentukan satu orang yang jadi pasangan kita. Tapi Tuhan menentukan satu kriteria orang yang cocok dengan hati kita dan kita bisa milih (misal : gue suka cewek yang kumisnya tebel. Kan misal). Later we find a matched girl and finally decide her to be our goal. Sisanya yang perlu kita lakukan adalah berusaha buat bisa menarik perhatian dia, dan perhatian Tuhannya. Dan jika kita cukup “ngeyel” dengan pilihan kita, mungkin tuhan akan rela menjatuhkan stempel jodoh nya di jidat gadis pilihan tersebut.

Seperti kata engku radit, jodoh itu bukan ditunggu tapi diperjuangkan.

gue setuju.

Orang2 saklek yang berpikiran bahwa jodoh tinggal ditunggu kedatangannya maka ia hanya akan tinggal menunggu tanpa melakukan usaha yang berarti. Tapi orang yang berpikir jodoh harus diperjuangkan akan berusaha untuk menjadi lebih baik dan terus berjuang untuk mendapatkan jodoh impiannya. Atau yang gue maksud disini berjuang agar dojodohkan dengan cewek impiannya.

Berjuang yang gue maksud bukan berarti deketin bambu runcing keleher sambil tereak-tereak "Berjodoh ataoe mati!!!". Berjuang gue maksud adalah berjuang dengan hati. Mencari tahu apa kesukaan dia, hobby dia, silsilah dia, and anything about him/her. Mencoba (dengan hati-hati) setiap Impression pack yang mungkin dia suka. Tahu kapan kita musti kalah dan musti menang. Jokes, Manner, And anything about that pinky shit.

Pada dasarnya cowok bisa dengan gampang banget mikirin itu semua pake otak mereka. Menyiapkan hal2 menyenangkan dengan harapan si cewek bakalan terkesan. Sayangnya, cewek mikir pake hati. Hal lucu bisa jadi bencana, jika mereka berkehendak demikian. Mereka makhluk tidak logis.

Gue tentu percaya bahwa umur, rizki, jodoh ada di tangan tuhan. Tapi apa jadinya kalau kita berpikir tinggal diam menunggu apa yg sudah ditetapkan Tuhan datang tanpa kita perlu ngapa2in? Maka gue jadi lebih setuju kalau kita berpikir bahwa umur, rizki dan jodoh adalah urusan tuhan, Yang menjadi urusan kita adalah berjuang.

Ustad gue juga pernah bilang kalo umur, rejeki dan jodoh hanya bisa diubah dengan doa. Dan doa2 yang pantas dikabulkan adalah doa yang sepadan dengan usaha dan pengorbanannya.

Cinta tidak pernah jahat. Cinta tidak pernah tidak adil. Apa yang membuatnya tampak menjadi jahat dan tidak adil adalah cinta yang engga pede.

Jaman sekarang orang gampang banget bisa cinta-cintaan. Temen gue, Rosi, adalah playboy sejati. Suatu saat dia berniat godain mbak kasir cantik Cuma buat nunjukin ke gue kalo dapet cewe itu gampang. Pas waktu dia bayar bill dia ambil spidol merah dan tulis id line dia disana. Seminggu kemudian kita nongkrong bertiga : gue, rosi, dan mbak kasir cantik korban poligami rosi.

Pacaran buat gue adalah proses memantaskan diri dengan sang (target) jodoh. It’s the time to know and understand each other. Waktu pacaran buat adalah waktu untuk mencari tahu, kebaikan seperti apa yang gue belum punya, setelan emosi seperti apa yang gue butuhkan, menyeimbangkan karakter sejauh apa?. 

Kita emang ga tau siapa yang jadi jodoh kita. Basicly, tidak ada yang tahu siapa jodohnya. Tapi Yang gue yakin, kita bisa minta. Meminta dengan sangat. Minta dengan berusaha dan berdoa. Berusaha agar pantas dan berdoa agar dipantaskan.

Semoga aku dipantaskan untukmu.
Yogyakarta, 01-02-2016